Selasa, 25 Agustus 2009

penataan hati dan membangun kekuatan jiwa, mari kita membaca!!

baru-abru ini aku ngalamin keadaan yang bener2 minta hati kembang kempes. ga usah diceritain masalahnya ya, karena masing2 orang kan punya pandangan yang beda tentang berat atau tidaknya obaan yang diterima. tapi adanya kejadian ttersebut bikin suatu perubahan yang cukup besar pada diriku. saat itu, aku ga punya teman yang bener2 bisa di ajak cerita dan mengerti secara sepenuhnya, walaupun aku tau banget kalo mereka berusaha semaksimal mungkin. akhirnya aku mencari buku2 (padahal kondisi keuangan lagi seret hehehe), dan kebetulan lagi ada obral buku di gramedia, jadi mulailah aku dalam petualangan dengan berbagai buku self help. Walaupun buku2 itu dibuat oleh orang2 dengan berbagai latar belakang, ada satu benang merah yang menghubungkan semua teori dan pembelajaran yang mereka ajarkan. Benang merah tersebut adalah cinta, keikhlasan dan meditasi. dengan berbuat banyak kebaikan terhadap orang lain maka akan banyak hal yang kita rasakan dan menenangkan hati. selain itu kita juga harus memberi waktu bagi diri kita sendiri dengan melakukan berbagai penenangan atau meditasi. meditasi secara tidak langsung melatih kita untuk dapat berkonsentrasi dan pada akhirnya membuat kita lebih fokus dan dapat menyelesaikan pekerjaan kita secara lebih maksimal. memang penerapan untuk semua itu sangat sulit, karena juga terkandung unsur kedisiplinan dan harus dilakukan secara terus menerus. Cara2 tersebut juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai dan mencintai diri sendiri, sehingga papun yang kita lakuakn akan dilakukan dengan hati yang bahagia.
buku2 tersebut juga memberi yahu bagaimana kekuatan sugesti sangat berperan dalam berbagai keadaan kita, baik secara jasmani, rohani maupun spiritual. saya menyarankan pada siapapun yang sedang menghadapi masalah dalam kehidupan atau merasa hidup begitu berat, untuk mencari masukan lewat buku2 yang termasuk buku "Psikologi-self help". Saya menyarankan buku2 karangan Robin Sharma. selamat mencoba,, tersenyumlah sebagaimana anak2 yang riang gembira :)

Jumat, 14 Agustus 2009

Pentingnya Tidur zzz...

PENTINGNYA TIDUR BAGI KESEHATAN

Manusia membutuhkan istirahat yang berguna untuk proses pemulihan dan penambahan kekuatan setelah organ-organ digunakan. Tidur merupakan sepertiga bagian dari kehidupan manusia. Yang terjadi saat tidur akan berdampak pada saat seseorang bangun, demikian pula sebaliknya, apa yang terjadi saat kita terjaga dapat berpengaruh pada saar tidur.
Tidur merupakan faktor penting dalam istirahat, dimana selama tidur semua fungsi-fungsi tubuh diperbaharui lagi. Tidur mempengaruhi kualitas hidup seseorang selain itu juga mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Berikut ini merupakan pengertian tidur menurut berbagai sumber:
• Tidur menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu keadaan berhenti (mengaso) badan dan kesadaran (biasanya dengan memejamkan mata).
• Tidur menurut kamus kedokteran Dorland adalah periode istirahat untuk tubuh dan pikiran, yang selama masa ini kemauan dan kesadaran ditangguhkan sebagian atau seluruhnya dan fungsi-fungsi tubuh sebagian dihentikan.
Tidur juga dideskripsikan sebagai status tingkah laku yang ditandai dengan posisi tak bergerak yang khas dan sensitivitas reversible yang menurun, tapi siaga terhadap rangsangan dari luar.
• Menurut Guyton, tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan ketidaksadaran darimana orang dapat dibangunkan dengan rangsang sensoris atau rangsang lainnya yang tepat.

a. Manfaat Tidur
1. Meningkatkan konsentrasi, daya ingat dan suasana hati.
2. Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.
3. Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.
4. Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.
5. Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.
6. Memulihkan sel-sel otot termasuk hati, ginjal tulang sumsum, perut dan otak.
7. Melenyapkan rasa jenuh, stress dan peradangan serta sebagai salah satu penyegar otak yang alami.



b. Gejala Kekurangan tidur
1. Tidur mendengkur
2. Pernapasan terhambat selama tidur
3. Kesulitan untuk tetap konsentrasi selama seharian
4. Mempunyai mata yang bengkak disebabkan kekurangan tidur.
5. Sering merasa letih dan tertekan pada waktu pagi dan malam.
6. Sering tertidur ketika berada di tempat ramai.
7. Kurang aktif dan kurang mempunyai hubungan sosial.
8. Sering mendapat masalah kesehatan seperti kejang otot, sakit perut, pusing, dan lain-lain.
9. Sukar tidur, sering terjaga malam, atau terjaga terlalu awal.
10. Mudah tersinggung.

c. Akibat kekurangan tidur bagi kesehatan
1. Bisa terjadi penurunan aktivitas, konsentrasi, respon bereaksi, lambat dalam menyerap informasi
2. Dapat meningkatkan kecenderungan penurunan daya ingat, masalah dalam perilaku dan masalah pada suasana hati.
3. Faktor resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas
4. Dapat memicu masalah fisik:
a. Obesitas: tidur memegang peranan dalam kemampuan tubuh untuk mengeluarkan neurohormon karena ketika jumlah pengeluran hormon menurun, kesempatan bertambah berat badan meningkat.
4. Tekanan Darah: tekanan darah secara alami akan turun selama tidur. Namun akibat kekurangan tidur dapat memicu hipertensi dan masalah kardiovaskular.
5. Diabetes: kemampuan tubuh menggunakan insulin dapat terganggu akibat kekurangan tidur sehingga memicu diabetes.
d. Cara tidur yang baik
 Waktu Tidur yang Baik :
Setiap anak membutuhkan waktu tidur yang berbeda-beda, ada yang membutuhkan waktu lebih, ada juga yang kurang. Berikut ini adalah tabel panduan waktu tidur secara umum.

Usia Waktu tidur malam
anak umur 5 tahun 10 – 12 jam
anak umur 6 tahun 10 – 11.5 jam
anak umur 7 tahun 9.5 – 11.5 jam
anak umur 8 tahun 9.5 – 11.5 jam
remaja umur 8 – 16 tahun 7 – 8 jam
dewasa umur + 16 tahun 6 – 7 jam

 Posisi tidur yang baik :
Posisi tidur mempengaruhi beberapa perubahan pada aktivitas yang terintegrasi dengan otak selama tidur, dimana posisi tidur tersebut mempengaruhi lelap atau tidaknya tidur yang berpengaruh bagi kesehatan. Adapun posisi tidur yang baik dan sering dilakukan oleh banyak orang yaitu posisi tidur foetus seperti pada gambar. Adapun keuntungan posisi foetus yaitu:
Untuk jalan nafas tidur miring mencegah jatuhnya lidah kebelakang yang dapat menyumbat jalan nafas.
Untuk jantung, tidur miring kesebelah kanan membuat jantung tidak tertimpa organ lainnya, ini karena posisi jantung yang memang berada lebih disebelah kiri.
Menekuk kaki sedikit pada saat tidur menolong organ-organ dan otot otot perut itu sendiri untuk relaksasi lebih sempurna.





I. SUMBER BELAJAR

1. Guyton, Arthur C.,1985. Buku teks fisiologi kedokteran bagian 2. Edisi 5. W.B.Saunders company: Philadelphia, 212.
2. Why sleep is important. Available at: http://www.nhlbi.nih.gov/health/public/sleep/starslp/parents/whysleep.htm . Accessed 11 Desember 2008.
3. Tidur sehar cara nabi. Available at: http://www.acehforum.or.id/tidur-sehat-cara-t13115.html?s=1930e706fce1e433f632dca57826d31c& Accessed 14 Desember 2008.
4. Yang mengalami susah tidur, insomnia, masuk sini. Available at: http://oxbrol.com/forums/f50/yang-mengalami-susah-tidur-insomnia-masuk-sini-186/ . Accessed 14 Desember 2008.
5. Istirahat yang sehat. Available at: http://www.dianweb.org/Sehat/ADI6.HTM . Accessed 14 Desember 2008.
6. Berapa lama sih waktu tidur yang paling baik yang dibutuhkan anak?. Available at: http://www.ibudananak.com/index.php?option=com_news&task=view&id=221&itemid=19. Accessed 12 Desember 2008.
7. Strange body positions in children’s sleep – “quiet” pathology. Available at: http://www.talkaboutsleep.com/sleep-disorders/archives/childrensdisorders_strange.htm. Accessed 12 Desember 2008.
8. Tidur menentukan umur seseorang. Available at: http://msyani.com/?p=333 . Accessed 14 Desember 2008.
9. Masalah tidur, kurang tidur menurut hasil penelitian. Available at: http://kesehatan.pasarinternet.com/2008/08/20/masalah-tidur-kurang-tidur-menurut-hasil-penelitian/. Accessed 12 Desember 2008.

manfaat merokok.. siapa bilang ga ada manfaatnya??

Rokok

Bahaya Merokok:

Mungkin anda sudah tahu bahwa menghisap asap rokok orang lain di dekat anda lebih berbahaya bagi anda daripada bagi si perokok itu sendiri. Asap Utama adalah asap rokok yang terhisap langsung masuk ke paru-paru perokok lalu di hembuskan kembali. Asap Sampingan adalah asap rokok yang dihasilkan oleh ujung rokok yang terbakar.
Masalahnya adalah udara yang mengandung asap rokok dan yang anda hisap, akan mengganggu kesehatan, karena asap rokok mengandung banyak zat-zat berbahaya, diantaranya :

 TAR
Mengandung bahan kimia yang beracun, sebagiannya dapat merusak sel paru-paru dan menyebabkan kanker.
 KARBON MONOKSIDA (CO)
Gas beracun yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen.
 NIKOTIN
Salah satu jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah, nikotin membuat pemakainya kecanduan.

Bila anda berada di ruangan berasap rokok cukup lama,
maka ketiga zat beracun di atas akan masuk ke paru-paru anda.




Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah membuktikan bahwa zat-zat kimia yang dikandung asap rokok dapat mempengaruhi orang-orang tidak merokok di sekitarnya.
Perokok pasif dapat meningkatkan risiko penyakit kanker paru-paru dan jantung koroner. Lebih dari itu, menghisap asap rokok orang lain dapat memperburuk kondisi pengidap penyakit :

 ANGINA
Nyeri dada akibat penyempitan pembuluh darah pada jantung.
 ASMA
Mengalami kesulitan bernafas.
 ALERGI
Iritasi akibat asap rokok.
Komunikasi dan informasi tentang bahaya merokok, baik bagi si perokok langsung maupun perokok pasif.
Menyediakan tempat-tempat khusus bagi orang yang merokok agar yang bukan perokok tidak terkena dampak negatifnya.
Jangan merasa segan untuk menegur perokok, jika anda merasa terganggu.



Bagaimana dengan dampak positif rokok?
Dampak positif dari merokok belum ada ditemukan di dalam sebuah artikel atau opini publik kecuali keuntungan bagi produsen dan pedagangnya. Yang ada adalah himbauan dan seruan dari berbagai pihak untuk menghindari yang namanya rokok. Namun demikian, sampai hari ini, meskipun sudah banyak himbauan dan peringatan akan bahaya merokok, tetapi tetap saja banyak orang di muka bumi ini yang merokok. Padahal, semua orang tahu bahwa dampak negatif dari merokok sangat banyak dan beragam bagi kesehatan tubuh manusia. Seperti kandungan tar, nikotin, zat dan gas kimia dalam rokok sudah menjadi rahasia umum berpotensi membenihkan sekian penyakit. Di bungkusnya saja sudah ada peringatan. Di pasaran saat ini banyak juga ditemui rokok yang mengklaim produknya memiliki kandungan tar dan nikotin lebih rendah. Tetapi tetap saja gas yang ditimbulkan sebagai efek samping merokok berpotensi membahayakan bagi si perokok (aktif) dan bagi orang disekitamya (pasif). Menurut penelitian ada 10 tipe kanker yang disebabkan oleh rokok. Selain itu disebutkan juga bahwa pria perokok akan meninggal 13,2 tahun lebih muda dibandingkan yang bukan perokok sedangkan wanita perokok meninggal 14,5 tahun lebih muda. Merokok dapat menyebabkan kanker mulut, pita suara dan esofagus. Wanita perokok memiliki kemungkinan 13 kali lebih tinggi kena kanker paru paru dibanding yang tidak merokok. Sedangkan pria perokok 23 kali lebih tinggi terkena kanker paru paru dibanding yang tidak merokok. Kanker perut dan lambung, kanker ginjal, kanker pankreas, bila fatal dapat menyebabkan diabetes mellitus I kencing manis, kanker leher rahim, kanker darah/leukemia. Perokok beresiko 3 kali lebih tinggi menderita katarak yang dapat menyebabkan kebutaan. Rokok dapat menjadi penyebab utama terjadinya stroke dan kerusakan otak. Perokok beresiko 10 kali lebih tinggi menderita periodontitis (gusi terbakar yang mengarah ke infeksi) sehingga dapat merusak jaringan halus dari tulang. Dampak lainnya dapat terjadi pneumonia, bronchitis, asthma, batuk kronis, gagal jantung, serangan jantung, hipertensi, dan stroke. Kemandulan, bayi lahir prematur, bayi lahir berat badan kurang (BBLR) dan ganguan pernapasan.
Untuk mencegah dampak buruk dari masuk dan tertimbunya bahan berbahaya rokok ke dalam saluran pernapasan, sebaiknya perokok mengkonsumsi sumber sumber Chlorophyl dan antioxidan secara teratur. Tidak lupa tentunya saran yang paling tepat adalah mulai berubah, mengurangi, dan menghilangkan kebiasaan hidup yang kurang baik seperti merokok. Selain perokok, di negeri kita tercinta ini jumlah perokok pasif ternyata sangat banyak. Survei sosial ekonomi nasional tahun 2001 menunjukkan, 91,8 persen penduduk mengaku merokok di rumah ketika sedang bersama keluarganya. Akibatnya, 97,5 juta orang dengan mudah mengisap asap rokok di rumah. Dari jumlah itu, 43 juta di antaranya adalah bayi hingga anak-anak berusia 14 tahun. Merokok merupakan perilaku adiksi yang telah mewabah secara global dan endemis di Indonesia. Ini menjadikan masalah bersama yang perlu ditanggulangi. Sebagian besar keluarga di Indonesia mempunyai anggota keluarga yang pernah atau sedang menjadi perokok aktif. Bila perilaku merokok menjadi adiktif pada salah satu anggota keluarga, maka anggota keluarga yang lain akan terkena dampak buruknya, termasuk janin yang masih di dalam kandungan. Karena itu, jika Anda seorang perokok, maka berhenti merokok merupakan langkah yang sangat terpuji. Ini artinya, Anda tak hanya menyayangi diri Anda sendiri, tapi juga menyayangi sesama. Memang, tidak mudah bagi orang yang sudah kecanduan rokok untuk menghentikan kebiasaan buruk ini. Banyak kalangan sampai hari ini tidak pernah patah arang untuk mengingatkan orang agar menghindari rokok.

Berhenti Merokok
Merasa sulit berhenti merokok, banyak perokok yang berusaha mengurangi bahaya rokok dengan beralih ke rokok rendah tar. Mereka menganggap, rokok jenis ini memiliki risiko yang lebih ringan terhadap kesehatan, atau dengan kata lain, rokok rendah tar merupakan rokok yang ‘ramah’ terhadap kesehatan. Tapi benarkah rokok rendah tar lebih aman? Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa rokok rendah tar menurunkan risiko gangguan terhadap kesehatan. Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Rasanya, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali berhenti merokok. Karena, banyak manfaat yang akan Anda peroleh jika berhenti merokok. Salah satunya, kualitas dan kuantitas hidup Anda akan meningkat. Begitu pun kualitas dan kuantitas hidup orang-orang yang tinggal bersama Anda, akan meningkat pula. Ini bisa dipahami karena mereka yang selama ini terpaksa ikut mengisap asap rokok dari Anda, kini terbebas dari asap berbahaya itu. Bagi masyarakat, hal itu akan mengurangi pengeluaran biaya pengobatan penyakit akibat rokok, serta mengurangi mangkir karena sakit akibat rokok. Diantara zat kimia itu yang terpenting dan sudah ada kaitannya dengan penyakit adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar sebagai getah tembakau adalah zat berwarna coklat berisi berbagai jenis hidrokarbon aromatik polisiklik, amin aromatik dan N-nitrosamine. Tar yang dihasilkan asap rokok akan menimbulkan iritasi pada saluran napas, menyebabkan bronchitis, kanker nasofaring dan kanker paru.

Kanker
Nikotin adalah bahan alkaloid toksik yang merupakan senyawa amin tersier, bersifat basa lemah dengan pH 8,0. Pada pH fisiologis, sebanyak 31% nikotin berbentuk bukan ion dan dapat melalui membran sel. Asap rokok pada umumnya bersifat asam (pH 5,5). Pada pH ini nikotin berada dalam bentuk ion dan tidak dapat melewati membran secara cepat sehingga di mukosa pipi hanya terjadi sedikit absorpsi nikotin dari asap rokok. Pada perokok yang menggunakan pipa, cerutu dan berbagai macam sigaret Eropa, asap rokok bersifat basa dengan pH 8,5 dan nikotin pada umumnya tidak dalam bentuk ion dan dapat diabsorpsi dengan baik melalui mulut. Nikotin juga berpengaruh terhadap pembuluh darah yakni merusak endotel pembuluh darah dan terhadap trombosit dengan meningkatkan agregasi trombosit. Nikotin diduga sebagai penyebab ketagihan merokok. Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang mempunyai afinitas kuat terhadap hemoglobin pada sel darah merah, sehingga membentuk karboksi hemoglobin mencapai tingkat tertentu akan dapat menyebabkan kematian. Akibat buruk dari kebiasaan merokok bagi kesehatan menurut salah satu penelitian kohort prospektif oleh Doll & Hill di Inggris tahun 1951, yang berlangsung hingga tahun 1990-an. Penelitian melibatkan 34.439 dokter sebagai responden, sepuluh ribu responden tersebut telah meninggal dunia dalam periode 20 tahun pertama penelitian (1951-1971). Sementara 10.000 orang lainnya meninggal dalam 20 tahun kedua (1971-1991) sejak penelitian itu sampai tahun 1990 ada sekitar 50 juta orang yang meninggal akibat kebiasaan merokok. Sedangkan dari tahun 1995 sampai tahun 2000 diperkirakan ada setidaknya 15 juta orang yang meninggal akibat kebiasaan merokok. Doll dan Hill melaporkan penyakit yang disebabkan oleh merokok: kanker paru, kanker esofagus, kanker saluran napas lainnya, bronchitis kronik dan emfisema, penyakit jantung paru.
Weir dan Dunn melaporkan hasil penelitian terhadap 68.153 laki-laki dan mendapatkan risiko yang lebih tinggi pada perokok untuk mendapatkan kanker paru, kanker mulut, kanker laring, kanker esophagus. Penyakit lain yang berhubungan dengan merokok ialah ulkus peptikum, emfisema, aneurisma, arteriosclerosis.Kebiasaan merokok akan memeprcepat penurunan faal paru. Penurunan volume ekspirasi paksa detik 1 (VEP 1), pertahun adalah 28,7 ml, 38,4 ml dari 41,7 ml masing-masing untuk non perokok, bekas perokok dan perokok aktif. Kebiasaan merokok mempengaruhi terjadinya penyakit paru akibat kerja seperti fibrosis paru akibat paparan aluminium, paparan radon, polimer FUME fever. Pengaruh asap rokok dapat lebih besar daripada pengaruh debu tambang. Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh buruk debu hanya sekitar sepertiga dari pengaruh buruk rokok.

A..B..c..D..Hemofilia,,sang kelainan perdarahan

HEMOFILIA

A. DEFINISI

Hemofilia adalah kelainan pembekuan darah yang diturunkan secara X-linked resesive. Oleh karena itu kebanyakan penderitanya adalah laki – laki, sedangkan wanita merupakan karier atau pembawa sifat. Sekitar 30% dari kasus hemofilia tidak mempunyai riwayat keluarga, hal ini terjadi akibat mutasi spontan. 3

Hemofilia adalah suatu kelainan perdarahan yang bersifat resesif dan berhubungan dengan kromosom X, merupakan tipe kelainan perdarahan menurun yang paling umum dan mengenai 1 dari 10000 orang. 3 Walaupun terjadi sebagai kelainan yang berhubungan dngan kromosom X ini banyak mengenai pria, telah diketahui bahwa 25% 3,4 keseluruhan kasus hemofilia terjadi karena mutasi spontan. Kelainan ini menyebabkan terjadinya penurunan tingkat factor pembekuan darah VIII dalam darah.keparahan dari penyakit ini tergantung pada tingkat sirkulasi dari factor pembekuan darah VIII dan ditandai dengan waktu pembekuan darah dan waktu paruh tromboplastin yang memanjang. Jumlah platelet, tes fungsi platelet dan waktu perdarahan dalam nilai normal. Gambaran klinis dari penyakit tergantung pada tingkat sirkulasi dari factor VIII dan dikateorikan menjadi ringan, sedang dan berat.3,4 Table 1 menunjukkan presentasi dari gambaran klinis pasien berdsarkan keparahannya. 1

Table 1.

Relation of Factor VIIIc concentration

and severity of bleeding

Factor VIII coagulant Clinical features

activity

Less than 1% (severe) Spontaneous bleeding into muscles and joints.

Severe bleeding after trauma.

Skeletal deformity.

1-5% (moderate) Occasional spontaneous bleeding.

Severe bleeding after mild trauma.

5-25% (mild) Severe bleeding after major trauma.

25-30% Tendency to bleed after major trauma.

B. KLASIFIKASI HEMOFILIA

Hemofilia dklasifikasikan menjadi 2, yaitu hemofilia A (hemofilia klasik) yang ditandai dengan fefisiensi factor pembekuan VIII dan merupakan tipe hemofilia yang paling umum terjadi. Tipe hemofilia lain adalah berkurangnya factor pembekuan darah IX (Chrismast disease) yang dikenal dengan hemofilia B. 3

Manifestasi klinik hemofilia A dan B sama yaitu berupa perdarahan yang dapat terjadi setelah trauma maupun spontan. Perdarahan setelah trauma bersifat “delayed bleeding’, karena timbulnya perdarahan terlambat. Jadi mula – mula luka dapat ditutup oleh sumbat trombosit, tetapi karena defisiensi F VIII atau IX maka pembentukan fibrin terganggu sehingga timbul perdarahan. Gambaran yang khas adalah hematoma dan hemartrosis atau perdarahan dalam rongga sendi. Perdarahan yang berulang – ulang pada rongga sendi dapat mengakibatkan cacat yang menetap dan perdarahan pada organ tubuh yang penting seperti otak dapat membahayakan jiwa. Beratnya penyakit tergantung aktivitas F VIII dan IX. Hemofilia berat jika aktivitas FVIII atau IX kurang dari 1%, hemofilia sedang jika aktivitasnya 1 – 5% dan hemofilia ringan jika aktivitasnya 5 – 25%.3,4

C. HEMOFILIA A

Hemofilia A, suatu kelainan perdarahan yang bersifat resesif dan berhubungan dengan kromosom X, merupakan tipe kelainan perdarahan menurun yang paling umum dan mengenai 1 dari 10000 orang. Walaupun terjadi sebagai kelainan yang berhubungan dngan kromosom X ini banyak mengenai pria, telah diketahui bahwa 25% dari keseluruhan kasus hemofilia terjadi karena mutasi spontan. Kelainan ini menyebabkan terjadinya penurunan tingkat factor pembekuan darah VIII dalam darah.keparahan dari penyakit ini tergantung pada tingkat sirkulasi dari factor pembekuan darah VIII dan ditandai dengan waktu pembekuan darah dan waktu paruh tromboplastin yang memanjang. Jumlah platelet, tes fungsi platelet dan waktu perdarahan dalam nilai normal. 1,3,4

Pasien dengan hemofilia A seringkali menyatakan terjadinya memar dan pembengkakan pada sendi, serta perdarahan yang tidak wajar yang berhubungan dengan trauma ringan atau prosedur operasi ringan.3

PENEGAKKAN DIAGNOSA HEMOFILIA A

A. DIAGNOSA HEMOFILIA A 1,2,3,4

Pasien dengan hemofilia A ringan sampai sedang kadangkala tidak menyadari adanya kelainan tersebut di dalam tubuhnya sampai setelah melakukan prosedur perawatan yang melibatkan trauma yang cukup besar. Keadaan tersebut terjadi karena pada hemofilia A ringan sampai sedang jumlah platelet, tes fungsi platelet dan waktu perdarahan dalam nilai normal. 3

Diagnosis hemofilia dibuat berdasarkan riwayat perdarahan, gambaran klinik dan pemeriksaan laboratorium. Pada penderita dengan gejala perdarahan atau riwayat perdarahan, pemeriksaan laboratorium yang perlu diminta adalah pemeriksaan penyaring hemostasis yang terdiri atas hitung trimbosit, uji pembendungan, masa perdarahan, PT (prothrombin time - masa protrombin plasma), APTT (activated partial thromboplastin time – masa tromboplastin parsial teraktivasi) dan TT (thrombin time – masa trombin). Pada hemofilia A atau B akan dijumpai pemanjangan APTT sedangkan pemerikasaan hemostasis lain yaitu hitung trombosit, uji pembendungan, masa perdarahan, PT dan TT dalam batas normal. Pemanjangan APTT dengan PT yang normal menunjukkan adanya gangguan pada jalur intrinsik sistem pembekuan darah. Faktor VIII dan IX berfungsi pada jalur intrinsik sehingga defisiensi salah satu dari faktor pembekuan ini akan mengakibatkan pemanjangan APTT yaitu tes yang menguji jalur intrinsik sistem pembekuan darah.

Pada pasien yang belum pernah menjalani pemerikaan darah ada tanda khas dari hemofilia ringan sampai sedang, yaitu insidensi memar yang tinggi dan adanya pembengkakan pada sendi. Riwayat memar dapat secara jelas menyatakan adanya kelaianan perdarahan dibawah kulit, sedangkan pembengkakan pada sendi diakibatkan terjadinya perdarahan pada sendi yang timbul karena adanya trauma pada daerah tersebut.

1. Post-extraction bleeding – An aid to diagnosis? Case report. Available at:

http://www.ada.org.au/App_CmsLib/Media/Lib/0610/M29462_v1_632974587236066250.pdf Accessed on 4 June 2009.

2. Pedersen, Gordon W, DDS.,MSD., 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 112.

3. Mild hemofilia book, Available at:

http://www.hemophilia.ca/files/MildHemophiliaBook-EN.pdf Accessed on 4 June 2009

4. artikel hemofilia Indonesia. Available at: http://www.hemofilia.or.id/artikel.php?col_id=4&coldtl_id=2 Accessed 3 June 2009

Pemutihan gigi

BLEACHING

  1. DEFINISI

Bleaching pada gigi adalah upaya untuk mendapatkan warna gigi geligi yang lebih cerah dengan menggunakan bahan-bahan pemutih gigi.

  1. INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI BLEACHING

I. INDIKASI

Indikasi dari bleaching adalah :

1. Ketidak puasan pasien terhadap warna gigi

2. Memperpanjang pemenuhan estetik dari mahkota tiruan yang akan lebih terang dibandingkan gigi asli sesuai warna mahkota tiruan.

3. Merawat gigi yang secara tunggal lebih gelap, baik pada keadaan vital / nonvital.

II.KONTRA INDIKASI

Walaupun bleaching merupakan suatu perawatan yang aman dan efektif dalam memperbaiki penampilan gigi, tidak semua gigi membutuhkan bleaching. Misalnya pada noda eksrinsik pada permukaan gigi, dapat dihilangkan dengan rubber cup bersamaan dengan pasta profilaksis, dsb. Berikut ini adalah kontra indikasi penggunaan bleaching:

1. Pasien dengan hipersensitivitas pada gigi.

2. Anak-anak dengan pulpa yang lebar

3. Gigi yang mengalami keretakan.

4. Wanita hamil dan menyusui.

5. Seseorang yang alergi terhadap bahan bleaching.

6. Pasien dengan restorasi estetik.

7. Pasien dengan riwayat kelainan TMJ.

8. Pasien yang mengalami bruxism.

  1. MEKANISME BLEACHING

Mekanisme dari Perokside

Hidrogen perokside (H2O2) pada keadaan alami bersifat cair, sedikit asam dan bila terurai secara alami akan menghasilkan air dan oksigen. H2O2 juga bersifat oksidator karena mampu menghasilkan oksigen aktif (radikal bebas). Proses pemutihan akan terjadi apabila pada bahan peroksida dilakukan pengubahan pH, suhu, cahaya untuk mendapatkan oksigen aktif, yang dalam hal ini bersifat elektrofilik. Elektrofilik berarti hanya memiliki satu elektron pada susunan kimianya dan berusaha mendapatkan kestabilan. Oksigen aktif akan tertarik kepada daerah yang kaya dengan ikatan ganda, memutuskan ikatn tersebut menjadi ikatan yang lebih sederhana, dan secara visual nampak perubahan warna menjadi lebih terang.

1. Perubahan pH akan menghasilkan oksigen aktif (radikal bebas/perhydrol) dalam bentuk ikatan heterolitik (deprotonosasi meninggalkan pasangan elektron).

HOOH pH  H + : OOH

(OOH merupakan oksigen aktif)

2. Tindakan pemberian cahaya atau panas akan membentuk ikatan homolitik (pemakaian bersama pasangan elektron).

HOOH suhu  H + .OOH,.

(OOH merupakan oksigen aktif)

Bahan pemutih umumnya berisikan surfactan dan pigmen dispersan. Surfactan berfungsi sebagai wetting agent, yang akan memudahkan H2O2 berdisfusi ke dalam jaringan gigi. Pigmen dispersan berfungsi sebagai agen pemelihara kestabilan dalam bentuk gel atau dalam bahasa kimia disebut dengan suspensi.

MACAM-MACAM TEHNIK BLEACHING

  1. IN-OFFICE BLEACHING[1,2,3,5]

Tahap prosedur klinis in-office Bleaching

  1. Rencana perawatan

Rencana perawatan yang baik juga menentukan keberhsilan dari in-office Bleaching, seperti :

  • Riwayat kesehatan gigi
  • Dental X-ray
  • Medical history
  • Photograph
  • Prosedur
  • Inform concern

2. Pemilihan teknik dan alat

Alat atau sarana yang dipergunakan sebagai pemicu atau accselerator proses dapat dikategorikan kedalam :

2.1. Menggunakan sinar atau panas

2.2. Menggunakan bahan kimia

2.3. Kombinasi keduanya.

1.1Menggunakan sinar atau panas.

Banyak produk telah menggunakan media cahaya sebagai accselerator dibandingkan dengan panas. Kerugian yang ditimbulkan oleh pemakaian accselerator berbasis panas, terutama adalah terjadinya sensitifitas, dehidrasi dan lagi pula panas yang optimal yang diperlukan untuk mempercepat reaksi pemutihan gigi lebih tinggi dari ambang aman yang diterima jaringan vital geligi.

Pemakaian media sinar kedalam proses pemutihan dikarenakan teknologi bahan yang sudah sedemikian rupa sehingga energi cahaya yang diterima diubah menjadi energi yang mengaktivasi hydrogen perokside dalam suatu rangkaian reaksi yang melibatkan bahan photo-initiator. Saat ini media penyinaran sudah disederhanakan, sehingga hanya dengan memakai cahaya atau alat lightcure yang biasa dipakai untuk pengerasan bahan tumpatan resin komposit dapat pula digunakan sebagai alat untuk mempercepat proses pemutihan. Artinya bahwa bahan pemutih ada saat ini sudah jauh lebih baik, didalamnya sudah diberikan bahan yang mampu menyerap energi cahaya menjadi pemicu dan mempercepat pembentukan radikal aktif untuk pemutihan.

Apabila menggunakan mediator cahaya sebaiknya dilakukan proteksi pada jaringan lunak baik pada gusi dan sekitar rongga mulut karena kuat cahaya yang digunakan sangat tinggi dan panas dapat timbul sehingga dapat mengakibatkan kekeringan dan luka pada gusi dan jaringan lunak sekitar mulut disamping itu menggunakan H2O2 yang tinggi konsentrasinya yang dapat memberikan rasa panas seperti terbakar bila terkena jaringan lunak.

1.2Menggunakan bahan kimia

Bleaching diklinik/tempat praktek menggunakan bahan yang lebih kuat dibandingkan bleacing dirumah ( biasanya larutan hydrogen peroksidase 35%). Zat yang kuat ini ( 10X lebih kuat dibandingkan carbamide peroksidase 10%) penting untuk menghasilkan perbaikan yang cepat seperti yang diharapkan. Tiar perusahaan / produsen menyediakan zat bleaching mereka dalam berbagai bentuk. Ada yang sangat cair dan ada pula yang berbentuk gel. Beberapa diantaranya dipasarkan dalam bentuk kombinasi powder – liquid yang dicampur untuk aktivasi kemudian ditempatkan ke gigi. Selain itu, ada yang dijual dalam bentuk larutan siap pakai dalam suatu syringe.

Seperti diutarakan dimuka bahan pemutih saat ini sudah dibuat dalam bentuk yang lebih baik, berupa gel pada umumnya, dikombinasikan dengan air (seperti OpalescenceTM dari Ultradent), atau memakai bahan titanium oksida yang mampu mengkatalisator pemutihan. Bahan penaktivasi hydrogen peroxide seperti yang ada pada Opalescence Xtra Boost dengan senyawa Red Carrotnya, dan lain-lain. Kesemuanya tersebut dibuat untuk memudahkan proses pemutihan tanpa mengurangi efektifitas kerja bahan.

1.3Kombinasi keduanya

Kombinasi pemakaian media cahaya pada satu sisi dan penambahan accselerator pada proses pemutihan pada sisi lain menjadikan pemutihan gigi saat ini menjadi semakin mudah. Hasilnyapun akan jauh lebih baik apabila mengkombinasikan kedua proses tersebut secara bersamaan. Beberapa produsen bahkan sengaja membuat media cahaya tersendiri untuk mempercepat proses pemutihan seperti Brite Smile, Ti White science, Rembrandt dan lain-lain.

3. Tahap persiapan

3.1. Pembuatan foto klinis dilakukan sebagai data dasar. Permukaan gigi harus dibersihkan dari berbagai deposit; stain, dental plak (harus diingat bahwa proses pemutihan gigi adalah proses oksidasi bahan organik, dalam plak banyak kandungan bahan organik yang kalau tidak dihilangkan akan bereaksi lebih dahulu dengan bahan pemutih yang pada akhirnya mengurangi efektifitas proses pemutihan gigi) dan kalkulus. Pada pasien paska pemasangan braces, sisa semen dan adesif harus dibersihkan sampai didapat permukaan gigi yang sesungguhnya.

3.2. Adakalanya pada permukaan email terdapat dekalsifikasi (bercak berwarna putih, kuning atau coklat) dan umumnya memiliki rata-rata kedalaman 0,2 mm. Bila kondisi ini dijumpai, dengan kedalaman 0,2 mm atau kurang, idealnya tindakan demineralisasi pada daerah tersebut dilakukan dengan mikroabrasi secara mekanis baik dengan bur atau pasta mikroabrasi sebelum dilakukan Bleaching.

3.3. Isolasi dan perlindungan terhadap gigi dan jaringan lunak dalam mulut.

3.4. Perlindungan juga dilakukan terhadap pasien dan seluruh operator dari panas dan cahaya pada proses pemutihan. Jangan memberikan anastesi lokal pada pasien, karena diperlukan reaksi dari pasien bila terdapat kebocoran pada bahan pelapis, rasa sensitif pada pasien atau panas yang berlebihan dapat timbul karena bahan pemutih terlalu yang banyak.

4. Aplikasi bahan bleaching

Terdapat beberapa perbedaan prosedur pemutihan tergantung pada etiologi dan keparahan dari pewarnaan, juga dari teknik yang dipakai sesuai dengan merek bahan yang digunakan. Hal berikut ini dapat dijadikan bahan pertimbangan :

  1. Jumlah kunjungan perawatan yang diperlukan akan berbeda. Gigi yang mengalami pewarnaan akibat minuman kopi, teh, usia atau kasus fluorosis, memberikan hasil yang baik rata-rata hanya dalam satu atau dua kali kunjungan.
  2. Konsentrasi bahan yang akan dipakai juga dipertimbangkan tergantung dari tingkat pewarnaan yang terjadi.
  3. Metode pengaplikasian bahan pada gigi juga berbeda, tergantung derajat dan lokasi pewarnaan

5. Proses Bleaching

Bleaching umumnya berlangsung kira-kira satu jam yang merupakan 2 sampai 3 kali prosedur pemaparan bahan aktif kepermukaan geligi dan sekitar 20 menit penyinaran.

  1. TAKE-HOME BLEACHING

Definisi dari take-home bleaching adalah pemutihan gigi yang dilakukan sendiri oleh pasien di bawah pengawasan dokter gigi. Berdasarkan definisi tersebut maka pemutihan gigi metoda ini dapat dilakukan tidak hanya di rumah, tapi dapat juga dilakukan diantara waktu kesibukan seperti bekerja ataupun dalam perjalanan. Metode ini merupakan cara emutihan gigi yang paling ekonomis dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Cara ini memerlukan kedisiplinan pasien yang tinggi karena fungsi dokter disini adakah sebagai pengawas saja, cara ini paling banyak direkomendasikan karena keamanannya dan hasil akhir yang baik.

Penggunaan bahan carbamide perokside 10% diakui aman oleh banyak pihak untuk melakukan pemutihan gigi. Pada teknik ini digunakan suatu wadah yang disebt dengan bleaching tray dan bahan pemutih berbentuk gel.

Perkembangan yang terjadi pada teknik ini adalah pada desain dan bahan dari wadah dimana diupayakan untuk dapat menyimpan bahan pemutih selama mungkin dan tanp menimbulkan iritasi, juga pada kekentalan dan komposisi bahan pemutih agar dapat bekerja lebih lama dan lebih baik, selain itu masih terjadi perdebatan mengenai waktu penggunaan apakah lebih baik pada wktu tidur dimana aliran saliva sangat rendah sehingga tidak terjadi pengenceran bahan pemutih yang digunakan disamping tidak menggangu kegiatan sehari-hari atau sore hari dimana pasien dapat mengontrol penuh atas kemungkinan terjadinya efek samping seperti sensitifitas dan dapat memperbaharui bahan pemutih setelah digunakan untuk satu atau dua jam agar selalu digunakan bahan pemutih dengan konsentrasi optimal sehingga proses Bleaching dapat berjalan dengan efektif.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan take-home bleaching

  1. Diagnosis berdasarkan etiologi dari pewarnaan gigi
  2. Rencana perawatan yang paling sesuai dengan etiologi dari pewarnaan.
  3. Lakukan pemeriksaan secara teliti pada 10 gigi anterior di rahang atas dan bawah apakah ada tumpatan, crown, karies, gigi non vital, crack, enamel chip, abrasi dan resesi.
  4. Informasikan pada pasien bahwa warna gigi yang sudah ditumpat tidak akan berubah (tetap)
  5. Panoramic dental X-ray foto membantu untuk mengetahui secara menyeluruh kondisi geligi pasien
  6. Pada awal sebelum dilakukan perawatan, dibuatkan foto dengan contoh warna pembanding rekam foto ini merupakan standard procedure, demikian juga selama perawatan dan akhir dari perawatan.
  7. Pembuatan Dental Whitening tray (wadah penampung)

Keunggulan dari teknik in-office bleaching dibandingkan dengan teknik take-home bleaching.

  1. Penghematan waktu
  2. Penghematan material
  3. Efektifitas: take-homeBleaching hanya akan berhasil pada pasien yang memang memiliki motivasi yang tinggi.

Autisme

AUTISME

Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum, autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.

Penyebab autisme dapat berasal dari faktor psikologis biologis dan lingkungan. Faktor psikoligis dikarenakan pola asuh yang salah yang menyebabkan terhambanya perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Faktor biologis dan lingkungan dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain gangguan pada neurotransmiter, zat kimia beracun,vaksinasi, genetik, nutrisi dan hal-hal lain seperti usia ibu, urutan kelahiran, pendarahan trisemester pertama dan kedua serta penggunaan obat yang tak terkontrol selama kehamilan.

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:

1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa mengerti maknanya, dstnya.

2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dstnya.

3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, serta melakukan permainan yang sama dan monoton.

4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.

TERAPI YANG TERPADU

Penanganan/intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.

a. Terapi Medikamentosa

Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga diberika obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) yang bisa memberikan keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan dopamine. Pemberian obat ini dilakukan dengan dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek samping. Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap lingkungan sehingga lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya. Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi bahkan dihentikan.

Akhir-akhir ini terapi biomedik banyak diterapkan pada anak dengan ASD. Hal ini didasarkan atas penemuan-penemuan para pakar, bahwa pada anak-anak ini terdapat banyak gangguan metabolisme dalam tubuhnya yang mempengaruhi susunan saraf pusat sedemikian rupa, sehingga fungsi otak terganggu. Gangguan tersebut bisa memperberat gejala autisme yang sudah ada, atau bahkan bisa juga bekerja sebagai pencetus dari timbulnya gejala autisme. Gangguan yang sering ditemukan adalah adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan gluten), gangguan keseimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti timbal hitam (Pb), merkuri (Hg), Arsen (As), Cadmium (Cd) dan Antimoni (Sb). Logam-logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat.

Terapi biomedik pada dasarnya dilakukan dengan mencari semua gangguan tersebut diatas dan bila ditemukan maka harus diperbaiki. Dengan demikian diharapkan bahwa fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala-gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang. Pemeriksaan yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses, serta colonoscopy dilakukan bila ada indikasi.

Terapi biomedik tidak menggantikan terapi-terapi yang telah ada, seperti terapi perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi.

b. Terapi Psikologis

Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat dan mudah hilang. Umumnya intervensi difokuskan pada peningkatan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri (self mutilation), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi normal.

Rutter membuat pendekatan yang komprehensif dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan :

Þ membantu perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial yang normal

Þ meningkatkan kemampuan belajar anak autistik

Þ mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya “hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini.

Þ mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri sendiri

Þ mengurangi stress pada keluarga penderita autisme

Selanjutnya, Lieke Van Sleeuwen menyatakan intervensi psikologis anak-anak autistik harus terfokus pada :

Þ memberikan stimulasi spesifik dan latihan untuk mengkompensasikan keterlambatan perkembangan secara menyeluruh

Þ memutuskan atau mengurangi perilaku yang sulit ditangani oleh lingkungan yang menghambat proses belajar sosial dan pendidikan

Þ mencegah timbulnya gangguan sekunder yang mungkin muncul sebagai efek dari gangguan utama.

Ketiga hal ini hanya dapat dilaksanakan pada lingkungan yang sangat terstruktur dan teratur dengan baik. Anak autistik memiliki pola berpikir yang berbeda, mereka mengalami kesulitan memahami lingkungannya. Oleh karena itu memberikan lingkungan terstruktur merupakan titik awal dalam proses intervensi penyandang autis.

Seperti halnya Rutter yang menekankan perlunya mengatasi stress pada keluarga, Sleeuwen juga menekankan pentingnya konseling keluarga. Setelah seorang anak didiagnosa autisme, adalah penting bahwa tidak hanya anak tersebut yang mendapatkan pertolongan, namun juga orang tua. Orang tua perlu diberikan pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak yang menderita autis. Orang tua juga dilibatkan dalam proses terapi (Home training). Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua belajar dan dilatih untuk dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan psikolog/terapis. Terapi tidak hanya dilakukan oleh terapis tetapi juga oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan meminimalisir kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai anak.

c. Terapi Wicara

Terapis Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.

Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD):
Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.

Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:

1. Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, maka terapis wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor Activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.

2. Untuk Artikulasi atau Pengucapan

Artikulasi/pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.

3. Untuk Bahasa

Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:

Þ Phonology (bahasa bunyi);

Þ Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;

Þ Morphology (perubahan pada kata),

Þ Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;

Þ Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks luas);

Þ Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;

Þ Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).

4. Suara

Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.

5. Pendengaran

Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;

Peran Khusus dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber KOMUNIKASI, yaitu :

1. Berbicara: Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll).

2. Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang NON-Verbal.

d. Fisioterapi
P
ada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi untuk merangsang perkembangan motorik dan kontrol tubuh.

e. Alternatif terapi lainnya

Selain itu ada beberapa terapi lainnya yang menjadi alternatif penanganan penyandang autis, yaitu :

Þ Terapi musik

Meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan memainkan alatmusik. Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media mengekspresikan diri, termasuk pada penyandang autis.

Þ Son- rise program

Program ini berdasarkan pada sikap menerima dan mencintai tanpa syarat pada anak-anak autistik. Diciptakan oleh orangtua yang anaknya didiagnosa menderita autisme tetapi karena program latihan dan stimulasi yang intensif dari orangtua anak dapat berkembang tanpa tampak adanya tanda-tanda autistik.

Þ Program Fasilitas Komunikasi

Meskipun sebenarnya bukan bentuk terapi, tetapi program ini merupakan metode penyediaan dukungan fisik kepada individu dalam mengekspresikan pikiran atau ide-idenya melalui papan alfabet, papan gambar, mesin ketik atau komputer.

Þ Terapi vitamin

Penyandang autis mengalami kemajuan yang berarti setelah mengkomsumsi vitamin tertentu seperti B 6 dalam dosis tinggi yang dikombinasikan dengan magnesium, mineral dan vitamin lainnya.

Þ Diet Khusus ( Dietary Intervention) yang disesuaikan dengan cerebral alergies yang diderita penyandang autis.

Þ Integrasi sensoris

Þ kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respons yang terarah. Disfungsi dari integrasi sensoris atau disebut juga disintegrasi sensoris berarti ketidakmampuan untuk mengolah rangsang sensoris yang diterima. Gejala adanya disintegrasi sensoris bisa tampak dari pengendalian sikap tubuh,motorik halus, dan motorik kasar. Adanya gangguan dalam keterampilan persepsi, kognitif, psikososial, dan mengolah rangsang. Namun semua gejala ini ada juga pada anak dengan diagnosa yang berbeda, misalnya anak dengan ASD. Diagnosa disintegrasi sensoris tidak boleh ditegakkan kalau ada tanda-tanda gangguan pada Susunan Saraf pusat.

Þ Terapi integrasi sensoris :
Aktivitas fisik yang terarah, bisa menimbulkan respons yang adaptif yang makin kompleks. Dengan demikian efisiensi otak makin meningkat.
Terapi integrasi sensoris meningkatkan kematangan susunan saraf pusat, sehingga ia lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya.
Aktivitas integrasi sensoris merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks , dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.

Þ Therapi lumba-lumba

Selama berabad-abad, dolphin dikenal sebagai mahluk yang cerdas dan baik hati. Para dokter saat ini mencoba memakai dolphin untuk terapi bagi anak dengan kebutuhan khusus. Anak-anak ini suka berada dalam air yang hangat, menyentuh tubuh dolphin dan mendengar suara-suara yang dikeluarkan oleh dolphin-dolphin tersebut. Dalam 2 dekade terakhir ini beberapa terapis dan psikolog berpendapat bahwa berenang dengan dolphin mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Beberapa orang bahkan percaya bahwa getaran dolphin dapat menyembuhkan sel manusia.

Para dokter di Dolphin-Human Therapy Center percaya bahwa mahluk yang sangat cerdas ini dapat membantu anak-anak dengan berbagai gangguan saraf, bahkan anak dengan Sindroma Down dan autisme. Anak-anak ini demikian menyukai berenang dengan dolphin, sehingga hal tersebut dipakai sebagai "reward" untuk anak yang memberi respons yang baik pada terapi perilaku, misalnya pada terapi metoda ABA. Laporan dari berbagai negara menunjukkan bahwa faktor interaksi itu yang mempunyai effek yang positif terhadap manusia.

Salah satu teori mengemukakan bahwa getaran sonar dolphin yang unik dapat mengindentifikasi gangguan saraf pada manusia, lalu menenangkannya sehingga lebih mudah bisa menerima pelajaran dan penyembuhan. Namun banyak pula para ilmuwan yang berpendapat bahwa anak-anak hanya menyukai bersentuhan dengan dolphin, dan berenang dengan dolphin hanya merupakan suatu rekreasi saja.

Suatu penelitian dilakukan di Dolphin-Human Therapy Center di Key Largo, Florida.David Cole, seorang ilmuwan dalam bidang neurology menciptakan alat khusus untuk mengukur effek dari dolphin pada otak manusia. Cole mendapatkan bahwa ada suatu perubahan faali bila manusia berinteraksi dengan dolphin. Setelah berinteraksi dengan dolphin didapatkan bahwa anak-anak tersebut menjadi lebih tenang. Banyak peneliti berpendapat bahwa relaksasi ini yang merupakan penyebab keberhasilan dolphin therapy. Menurut beberapa peneliti, relaksasi merangsang sistem kekebalan tubuh. Cole mempunyai teori yang lain. Menurutnya energi dari dolphin bisa menimbulkan suatu phenomena "cavitasi" (pembuatan lubang). Energi tersebut dapat membuat robekan/ lubang pada struktur molekuler dan tissue yang lembut. Cole percaya hal ini bisa merubah metabolisme selular, dan terjadi pelepasan hormone atau endorphin yang merangsang pembentukan sel-T

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anonim. Terapi Untuk Anak Autisme Mother And Baby Tue, 29 Jul 2003

http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

  1. Anonim. Terapi Lumba-Lumba Untuk Anak Autis. 2007 http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=83
  2. Dra.Elvi Andreani Yusuf Autisme:Masa Kanak : 2003

http:/www.USUdigitallibrary.ac.id

  1. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis Dalam Prakter Umum. Dian Rakyat,Jakarta:2004
  2. Leny Marijani BSc. Seputar Autisme dan permasalahannya. 2003

http://www.puterakembara.org